Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu menerapkan teknik penebangan yang tepat untuk menjaga mutu kayu dan keselamatan kerja. Dalam kegiatan di lapangan pada Kamis, 8 Oktober 2026, ketelitian tenaga tebang menjadi perhatian sejak persiapan hingga pohon berhasil direbahkan.
Penebangan merupakan tahap penting dalam pengelolaan hasil hutan karena cara pohon ditebang dapat memengaruhi kondisi fisik batang dan nilai ekonomis kayu. Karena itu, pekerja perlu memperhitungkan keadaan pohon, arah rebah, serta lingkungan di sekitar lokasi sebelum melakukan pemotongan.
Perencanaan arah rebah menentukan kondisi batang
Mandor tebang bertugas mengawasi proses tersebut, termasuk memastikan persiapan dilakukan dengan cermat. Pengamatan terhadap kondisi pohon dan area sekitarnya membantu pekerjaan berlangsung lebih terkendali. Perencanaan itu juga ditujukan untuk mengurangi risiko batang rusak ketika pohon direbahkan.
Mewakili Administratur KPH Cepu, Mandor Tebang Sudiyoko mengatakan penentuan arah rebah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas kayu. Batang yang pecah atau tersangkut dapat mengalami kerusakan yang berdampak pada mutu hasil tebangan.
“Pengaturan arah rebah pohon untuk mencegah batang kayu pecah atau tersangkut dilakukan dengan menerapkan teknik takik rebah (undercut) dan engsel kayu (hinge wood) secara tepat. Dengan penerapan teknik yang benar, proses perebahan pohon dapat lebih terkendali sehingga risiko kerusakan batang kayu dapat diminimalkan,” kata Sudiyoko.
Teknik takik rebah dan engsel kayu digunakan sebagai bagian dari upaya mengarahkan jatuhnya pohon. Penerapannya, menurut Sudiyoko, membutuhkan perhitungan yang disesuaikan dengan kondisi pohon dan rencana arah rebah. Dengan demikian, proses tidak hanya berfokus pada pemotongan, tetapi juga pada bagaimana batang jatuh tanpa menimbulkan kerusakan yang tidak perlu.
Kondisi pohon dan lingkungan diperhitungkan
Sebelum penebangan dilakukan, tenaga tebang perlu memperhatikan kondisi batang, kemiringan pohon, arah rebah yang direncanakan, serta kemungkinan hambatan di sekitarnya. Faktor-faktor tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah kerja. Perencanaan yang matang diharapkan menekan risiko batang pecah, kayu rusak, maupun pohon tersangkut.
Aspek keselamatan tenaga kerja juga menjadi bagian dari pengawasan. Ketelitian dalam membaca keadaan lokasi dan mengikuti prosedur diharapkan mendukung kelancaran pekerjaan sekaligus mengurangi risiko saat pohon direbahkan. Karena itu, pengawasan mandor berlangsung sejak tahap persiapan, bukan hanya ketika pemotongan dilakukan.
Di sisi lain, kemampuan mengoperasikan gergaji mesin atau senso turut menentukan hasil penebangan. Tenaga senso Sudarji menyebut setiap tahap perlu dilakukan dengan cermat, mulai dari menyiapkan peralatan, membuat takik rebah, hingga memotong batang.
“Kami selalu berupaya melakukan penebangan dengan cermat, mulai dari persiapan peralatan, pembuatan takik rebah, hingga proses pemotongan batang. Tujuannya agar kayu tidak mengalami kerusakan yang tidak perlu dan kualitas hasil tebangan tetap terjaga,” ujar Sudarji.
Peralatan dan koordinasi mendukung mutu kayu
Keterampilan pekerja perlu didukung kondisi peralatan yang layak. Perhutani KPH Cepu juga menaruh perhatian pada pemeliharaan alat kerja, termasuk perawatan rantai senso. Peralatan yang terawat dapat membantu pekerjaan berjalan lebih efektif, sementara penggunaan sesuai prosedur tetap menjadi perhatian selama proses berlangsung.
Koordinasi antara mandor tebang dan tenaga senso menjadi unsur lain dalam pelaksanaan pekerjaan. Pengawasan dan komunikasi membantu memastikan tahapan penebangan berjalan sesuai rencana, dari persiapan sampai batang selesai dipotong. Upaya ini diarahkan untuk menekan kerusakan kayu yang dapat mengurangi nilai hasil tebangan, tanpa mengabaikan keselamatan pekerja.
Melalui penerapan teknik penebangan yang benar, KPH Cepu berupaya menjaga mutu kayu sekaligus mendukung produktivitas kerja. Perhatian pada perencanaan arah rebah, keterampilan tenaga, kondisi alat, dan pengawasan lapangan menjadi bagian dari komitmen pengelolaan hasil hutan yang bertanggung jawab.
Sinergi para pekerja di lapangan diharapkan terus membantu menghasilkan kayu berkualitas dan meminimalkan kerusakan selama penebangan. Konsistensi menjalankan prosedur menjadi kunci agar nilai manfaat hasil hutan tetap terjaga, seiring upaya Perhutani meningkatkan profesionalisme kerja dan keselamatan.
