Syahrini mengungkap asal-usul jargon “hus, hus, sana” yang melekat pada dirinya. Ungkapan itu, kata penyanyi tersebut, berawal dari kebiasaannya mengusir hewan yang menghalangi jalan saat ia berkendara. Dari seruan spontan itu, lahir kalimat khas yang kemudian dikenal luas sebagai candaan.
Cerita tersebut disampaikan Syahrini ketika berbincang dalam podcast Raditya Dika. Ia mengenang situasi sederhana di jalan raya: saat melihat anjing atau ayam berada di depan kendaraan, ia menghalau hewan itu dengan seruan “hus, hus”.
Berawal dari kebiasaan mengusir hewan di jalan
Menurut Syahrini, kebiasaan itu bukan bermula dari upaya menciptakan jargon. Ia hanya melakukan hal yang lazim dilakukan orang ketika ada hewan menghalangi perjalanan, yakni memberi isyarat suara agar hewan tersebut menjauh.
“Zaman dulu tuh, kalau kita nyetir gitu depan kita ada anjing gitu kan kita usir, ‘hus, hus,’ gitu kayak kita ngusir ayam gitu, ‘hus, hus’ gitu,” kata Syahrini.
Pengalaman itu menjadi pangkal dari ungkapan yang kemudian ia bawakan dengan gaya sendiri. Seruan pendek “hus, hus” mendapat tambahan kata “sana”, sehingga terdengar lebih lengkap dan mudah dikenali sebagai kalimat khasnya.
Dalam penuturannya, Syahrini menggambarkan cara tersebut sebagai versi yang lebih anggun dari tindakan mengusir hewan. Penjelasan itu ia sampaikan dengan nada bercanda, selaras dengan gaya khas yang melekat pada ungkapan tersebut.
Sentuhan “usir cantik” ala Syahrini
Syahrini menyebut cara itu sebagai “usir cantik”. Ia mengemas tindakan sederhana yang biasa dilakukan saat berkendara menjadi ungkapan yang terdengar jenaka sekaligus personal. Di situlah, menurut ceritanya, letak perbedaan antara seruan mengusir biasa dan jargon “hus, hus, sana”.
“Usir cantik, tapi ala Syahrini kan usir cantik, ‘hus, hus, sana’,” kelakarnya.
Kalimat tersebut tidak dirancang sebagai slogan sejak awal. Syahrini menuturkan bahwa ungkapan itu muncul dari kebiasaan spontan, lalu melekat karena cara penyampaiannya. Pengalaman sehari-hari di jalan raya pun berubah menjadi cerita yang mudah diingat publik.
Jargon itu kemudian ramai di media sosial dan dikenal sebagai salah satu ungkapan ikonis Syahrini. Asal-usulnya yang sederhana menjadi bagian dari daya tarik cerita: sebuah kebiasaan kecil mendapat bentuk dan warna khas setelah dibawakan dengan gaya sang penyanyi.
Jargon yang berkembang menjadi candaan
Penggunaan “hus, hus, sana” kini tidak terbatas pada konteks awalnya, yakni menghalau hewan yang berada di jalan. Masyarakat juga memakainya sebagai gurauan untuk menyuruh seseorang menjauh atau menanggapi keadaan yang dirasa mengganggu.
Perluasan makna itu membuat kalimat tersebut bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan nada humor. Ungkapan yang berangkat dari situasi konkret saat berkendara berubah menjadi cara ringan untuk menyampaikan teguran atau menunjukkan ketidaksukaan terhadap suatu keadaan.
Kisah Syahrini memperlihatkan bagaimana pengalaman sederhana dapat berkembang menjadi jargon yang mudah dikenali. Bukan hanya susunan katanya, cara ia membawakan ungkapan itu ikut memberi ciri tersendiri. Cerita di balik “hus, hus, sana” pun menjadi konteks bagi publik untuk memahami bagaimana kalimat tersebut lahir dan mengapa kemudian digunakan sebagai candaan.
Dalam perbincangan tentang jargon itu, Syahrini mengaitkan popularitasnya dengan kebiasaan spontan, bukan dengan proses penciptaan yang direncanakan. Ungkapan tersebut terus hidup dalam percakapan karena dapat dipakai dalam beragam situasi secara jenaka, sementara kisah asalnya tetap berakar pada momen sederhana di jalan raya.
