Kabut asap yang menyelimuti Palembang membuat warga mengeluhkan gangguan kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Sejumlah warga melaporkan sulit tidur pada malam hari, asma kambuh, serta mata terasa perih. Di tengah kondisi udara yang dilaporkan berbahaya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat menggunakan masker.
Dampak asap juga terlihat pada perjalanan udara. Jarak pandang di Palembang dilaporkan hanya sekitar 400 meter, sementara 15 penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) mengalami penundaan. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kabut asap mengganggu warga sekaligus mobilitas di kota tersebut.
Keluhan warga muncul di tengah udara berasap
Keluhan yang disampaikan warga menggambarkan dampak asap yang dirasakan langsung, bukan hanya perubahan pada pemandangan kota. Tidur malam yang terganggu, asma yang kambuh, dan mata perih menjadi persoalan yang mereka hadapi saat kabut menyelimuti Palembang.
Rangkuman laporan Kompas.com menyebut kualitas udara di kota itu berada pada tingkat berbahaya. Informasi yang tersedia tidak merinci angka pengukuran maupun durasi kondisi tersebut. Namun, keluhan warga menunjukkan bahwa asap telah menjadi gangguan nyata dalam kegiatan sehari-hari.
Gangguan tidur menjadi salah satu keluhan yang paling terasa bagi warga. Ketika waktu istirahat terganggu, aktivitas pada hari berikutnya berpotensi ikut terdampak. Bagi warga yang asmanya kambuh, kondisi itu juga menambah kekhawatiran, sementara mata perih menandai ketidaknyamanan yang mereka alami saat terpapar asap.
BNPB imbau warga memakai masker
Di tengah kabut asap yang menyelimuti kota, BNPB mengimbau warga menggunakan masker. Imbauan tersebut menjadi salah satu langkah perlindungan yang disampaikan kepada masyarakat saat kondisi udara dinilai berbahaya.
Informasi yang dirangkum belum menjelaskan rincian teknis mengenai tingkat polusi, penyebab pasti asap, ataupun berapa lama kabut diperkirakan bertahan. Karena itu, warga masih menghadapi situasi yang berkembang tanpa kepastian waktu kapan udara akan kembali membaik.
Di Palembang, upaya menghadapi asap juga berlangsung melalui kegiatan keagamaan. Kompas.id melaporkan pelaksanaan shalat istisqa, yakni shalat untuk memohon turunnya hujan. Harapan yang menyertai kegiatan itu adalah hujan dapat membantu mengusir kabut asap yang menyelimuti kota.
Jarak pandang pendek tunda penerbangan
Gangguan akibat kabut tidak berhenti pada keluhan kesehatan. Jarak pandang yang hanya sekitar 400 meter berdampak pada operasional penerbangan di Bandara SMB II. Sebanyak 15 penerbangan dilaporkan mengalami penundaan dalam kondisi tersebut.
Penundaan itu menjadi gambaran lain dari dampak asap terhadap kegiatan warga. Perjalanan yang seharusnya berlangsung sesuai jadwal harus menyesuaikan keadaan di sekitar bandara. Laporan yang tersedia tidak merinci maskapai, rute, ataupun lama keterlambatan masing-masing penerbangan.
Meski detail operasionalnya tidak disebutkan, jarak pandang yang terbatas menunjukkan bahwa kabut asap telah mengganggu pergerakan udara di Palembang. Dampaknya dirasakan oleh penumpang yang menunggu keberangkatan, sekaligus menambah persoalan di tengah keluhan warga mengenai kondisi udara.
Warga menanti kondisi udara membaik
Berbagai laporan mengenai Palembang menyoroti sisi yang berbeda dari satu situasi: kesehatan warga, imbauan penggunaan masker, harapan akan hujan, dan penundaan penerbangan. Seluruhnya mengarah pada kebutuhan untuk memantau perkembangan kabut asap, terutama karena dampaknya telah masuk ke ruang hidup dan perjalanan masyarakat.
Sejauh informasi yang tersedia, belum ada keterangan tentang kapan kabut akan menipis atau penerbangan kembali berjalan normal. Untuk sementara, imbauan BNPB agar warga memakai masker menjadi langkah yang disampaikan di tengah kondisi udara berbahaya. Warga pun menanti perubahan cuaca yang dapat membawa kelegaan bagi Palembang.
