Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,64 persen ke level 4.996 pada perdagangan Senin (19/10), setelah MSCI menyatakan tengah mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Gejolak itu tidak serta-merta memangkas gaji pekerja, tetapi dapat merambat ke harga kebutuhan, keputusan perusahaan, dan kesempatan kerja—terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan dampak terhadap pekerja lebih mungkin terjadi melalui jalur tidak langsung. Pelemahan rupiah, meningkatnya biaya pembiayaan, serta perubahan investasi perusahaan dapat memengaruhi kondisi rumah tangga meski mereka tidak memiliki saham.
Dari tekanan IHSG ke biaya hidup
Pada perdagangan tersebut, IHSG turun 188,49 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Sebanyak 656 saham melemah, sementara 100 saham menguat dan 43 lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp25,06 triliun dengan volume sekitar 33,93 miliar saham.
Seluruh 11 sektor saham berakhir di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor barang baku, yang turun 4,57 persen. Pada saat yang sama, rupiah berada di sekitar Rp18 ribu per dolar AS, menambah kekhawatiran mengenai tekanan terhadap perekonomian yang lebih luas.
Menurut Josua, jika investor asing menarik dana dari pasar domestik, tekanan dapat menjalar ke nilai tukar. Apabila rupiah melemah dalam waktu lama, biaya impor bahan baku, energi, dan barang kebutuhan sehari-hari berpotensi meningkat. Kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga jual atau mengurangi keuntungan perusahaan.
Perusahaan yang menghadapi biaya produksi lebih tinggi mungkin menunda ekspansi. Dalam situasi seperti itu, perekrutan tenaga kerja, pemberian lembur, maupun kenaikan gaji juga berisiko ditahan. Namun, efek tersebut bukan akibat otomatis dari satu hari penurunan IHSG; perkembangannya bergantung pada kondisi ekonomi dan keputusan masing-masing perusahaan.
Pekerja berpenghasilan rendah paling rentan
Kelompok berpenghasilan rendah memiliki ruang yang lebih sempit untuk menyerap kenaikan harga karena sebagian besar pengeluaran mereka terserap untuk kebutuhan pokok. Josua menyebut 20 persen penduduk dengan pengeluaran terendah mengalokasikan 64,6 persen belanjanya untuk makanan.
Artinya, ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tetap, anggaran untuk transportasi, pendidikan, kesehatan, dan tabungan dapat terdesak. Tekanan semacam ini terasa lebih berat bagi keluarga yang juga harus membayar kontrakan, listrik, serta kebutuhan anak.
Josua memberi ilustrasi seorang pekerja bergaji Rp3 juta per bulan yang membelanjakan 60 persen pendapatannya, atau Rp1,8 juta, untuk makanan. Jika harga makanan naik 5 persen dan jumlah pembelian tidak berubah, pengeluaran bertambah sekitar Rp90 ribu per bulan.
“Perhitungan ini hanya ilustrasi, bukan prediksi bahwa kejatuhan IHSG pasti menyebabkan kenaikan harga pangan sebesar 5 persen,” kata Josua.
Tambahan pengeluaran itu dapat mendorong keluarga mengurangi konsumsi, menunda kebutuhan penting, atau memakai tabungan untuk mempertahankan kebutuhan sehari-hari. Dampaknya bukan hanya soal kemampuan membeli makanan, melainkan juga soal sisa anggaran untuk kebutuhan lain.
Risiko pekerjaan dan perubahan kondisi ekonomi
Tekanan yang berlangsung lama juga dapat menghambat investasi perusahaan, termasuk rencana membangun pabrik atau membuka cabang. Jika ekspansi tertunda, penciptaan lapangan kerja bisa melambat dan kenaikan pendapatan masyarakat ikut tertahan.
Josua menilai kemungkinan seseorang turun kelas ekonomi memang ada, tetapi tidak bisa disimpulkan hanya dari pergerakan IHSG. Risiko membesar jika pelemahan pendapatan riil, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian pekerjaan terjadi bersamaan dalam waktu cukup lama.
Kelas menengah bawah dan keluarga yang berada sedikit di atas garis kemiskinan termasuk kelompok yang rentan, khususnya jika tidak memiliki tabungan memadai untuk menghadapi kehilangan pendapatan selama beberapa bulan. Dalam tekanan berkepanjangan, keluarga bisa mengurangi konsumsi, menguras simpanan, menjual aset, atau menambah utang.
Perubahan kelas ekonomi, menurut Josua, perlu dibuktikan melalui data pengeluaran riil rumah tangga, bukan ditarik langsung dari naik-turunnya indeks saham. Karena itu, gejolak pasar perlu dicermati sebagai salah satu risiko ekonomi, bukan kepastian bahwa daya beli seluruh pekerja akan segera merosot.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Josua menyarankan pekerja berpenghasilan rendah mengutamakan kestabilan keuangan rumah tangga daripada mengejar keuntungan investasi tinggi di pasar yang bergejolak. Perkembangan harga, pendapatan, dan kondisi kerja dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi penentu yang lebih nyata bagi daya tahan keluarga.
