Wafatnya Guruh Soekarnoputra pada 26 September 2026 membuat perhatian kembali tertuju pada keluarga besar Soekarno. Setelah kepergian seniman sekaligus politikus itu, keturunan Bung Karno dari generasi anak, cucu, hingga cicit masih menjalani kiprah di bidang politik, seni, pendidikan, dan kegiatan sosial.
Catatan Kepustakaan Presiden di Perpustakaan Nasional menyebut Soekarno memiliki delapan anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, Guruh, Taufan, Bayu, dan Kartika. Sejumlah catatan tentang keluarga Bung Karno juga menyebut nama lain, sehingga informasi mengenai jumlah dan silsilah dapat berbeda di berbagai sumber.
Anak-anak Soekarno yang masih menjalani kiprah publik
Guntur Soekarnoputra, anak pertama Soekarno dan Fatmawati, lahir pada 3 November 1944. Ia lebih dikenal melalui kegiatan seni dan kebudayaan. Guntur juga beberapa kali hadir dalam acara keluarga, termasuk perayaan ulang tahun Megawati pada Januari 2026 bersama putrinya, Puti Guntur Soekarno.
Megawati Soekarnoputri, yang lahir pada 23 Januari 1947, merupakan anak kedua Soekarno dan Fatmawati. Ia pernah menjabat Presiden RI kelima pada 2001-2004 dan hingga kini masih aktif dalam kegiatan politik serta organisasi. Dari pernikahannya dengan Surindro Supjarso, Megawati memiliki Mohammad Prananda Prabowo dan Mohammad Rizki Pratama. Bersama Taufiq Kiemas, ia dikaruniai Puan Maharani.
Sukmawati Soekarnoputri, anak keempat Soekarno dan Fatmawati, lahir di Jakarta pada 26 Oktober 1951. Kiprahnya mencakup dunia politik dan seni. Pada 2026, ia masih terlibat dalam kegiatan kebudayaan, termasuk pementasan tari di Buleleng, Bali.
Kartika Sari Dewi Soekarno merupakan putri Soekarno dari pernikahannya dengan Ratna Sari Dewi Soekarno, yang sebelumnya dikenal sebagai Naoko Nemoto. Lahir di Tokyo pada 11 Maret 1967, Kartika lebih banyak dikenal lewat kegiatan sosial. Ia menjalankan aktivitas melalui yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan kesejahteraan anak.
Bayu, Totok, dan Ayu memilih jalur berbeda
Tak semua anak Soekarno berada di ruang publik. Bayu Soekarnoputra, putra Bung Karno dari pernikahannya dengan Hartini, menjalani kehidupan yang relatif jauh dari sorotan media. Namanya tetap tercatat dalam silsilah keluarga Soekarno, meski informasi mengenai aktivitas pribadinya terbatas.
Totok Suryawan Soekarnoputra, yang juga dikenal sebagai Toto Suryawan, merupakan putra Soekarno dengan Kartini Manoppo. Ia lahir pada 1967 dan jarang muncul di media nasional. Namanya kembali diberitakan pada 2026 karena aktivitasnya di lingkungan Gerakan Pemuda Marhaenis.
Ayu Gembirowati juga termasuk putri Soekarno yang tidak banyak terekspos. Pada 2026, ia disebut memimpin Lembaga Pengelola Pendidikan Trisakti. Informasi mengenai kehidupan keluarga dan keturunannya tidak banyak tersedia untuk publik.
Rachmawati Soekarnoputri, salah satu anak Soekarno dan Fatmawati, telah meninggal dunia pada 3 Juli 2021. Ia dikenal sebagai tokoh politik dan pendiri Universitas Bung Karno. Putranya, Hendra Rahtomo atau Romy Soekarno, meneruskan kiprah keluarga di ruang publik.
Generasi cucu dan cicit meneruskan nama keluarga
Romy Soekarno lahir pada 1972 dan merupakan cucu Bung Karno. Ia dilantik sebagai anggota DPR RI untuk periode 2024-2029. Di antara generasi cucu lainnya, Puan Maharani juga dikenal luas melalui kiprahnya di dunia politik. Puan merupakan putri Megawati dan Taufiq Kiemas, sekaligus salah satu keturunan Soekarno yang meneruskan keterlibatan keluarga di panggung nasional.
Puti Guntur Soekarno, putri Guntur, turut aktif di ranah politik dan tercatat sebagai anggota DPR RI. Kehadirannya bersama sang ayah dalam acara keluarga pada Januari 2026 memperlihatkan bahwa ikatan keluarga dan aktivitas publik berjalan beriringan pada generasi penerus.
Garis keturunan tersebut berlanjut hingga generasi cicit. Muhammad Jihad Rahtomo Soekarnoputra, atau Jeje Soekarno, adalah putra Romy Soekarno dan aktris Donna Harun. Ia dikenal melalui aktivitas di dunia hiburan serta media sosial.
Kiprah anggota keluarga Soekarno kini tersebar di berbagai bidang, sementara sebagian lainnya memilih hidup lebih tertutup. Perbedaan pilihan itu menunjukkan bahwa warisan keluarga besar Bung Karno tidak hanya hadir dalam politik, tetapi juga dalam seni, pendidikan, dan kegiatan sosial. Generasi berikutnya akan membawa nama tersebut dengan cara masing-masing, mengikuti ruang dan zamannya.
