Fabio Quartararo tak menganggap posisi start sebagai penentu utama peluangnya di MotoGP Jepang. Menjelang seri ke-16 musim 2026 di Motegi, pebalap Yamaha itu menilai persoalan terbesar timnya justru kecepatan saat balapan utama, yang menurutnya masih tertinggal jauh dari para pesaing.
Pengalaman di Red Bull Ring menjadi alasan Quartararo bersikap realistis. Di MotoGP Austria dua pekan sebelumnya, ia mengamankan posisi start kesembilan, tetapi hanya finis di urutan ke-12 dan ke-17 dalam dua balapan. Tiga pebalap Yamaha lainnya, Alex Rins, Jack Miller, dan Toprak Razgatlioglu, bahkan finis di posisi paling belakang.
Quartararo menargetkan langsung ke Q2
Meski hasil balapan di Austria mengecewakan, Quartararo merasa masih cukup nyaman menjalani sesi kualifikasi dengan motornya. Ia ingin memanfaatkan aspek tersebut untuk mengamankan tiket langsung ke Q2 pada Jumat, sekaligus mencari posisi start sebaik mungkin untuk balapan di Motegi.
“Saya tidak tahu pasti, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik. Kita lihat saja, bagaimana tingkat cengkeraman lintasan dan apakah mungkin saya bisa mencatatkan waktu kualifikasi yang bagus. Menurut saya, itu adalah salah satu aspek di mana saya merasa cukup nyaman dengan motor ini,” kata Quartararo.
Start dari barisan depan tentu tetap lebih menguntungkan, menurut pebalap berusia 27 tahun itu. Namun, posisi kesembilan yang ia raih di Austria tidak cukup untuk mengubah hasil akhir. Bagi Quartararo, masalahnya bukan semata-mata posisi awal, melainkan kemampuan motor mempertahankan kecepatan sepanjang balapan utama.
“Tentu saja, selalu lebih baik untuk start dari posisi depan. Namun kita melihat di Red Bull Ring bahwa tidak masalah apakah kita start dari posisi ke-9 atau lebih belakang karena kecepatan kami tertinggal jauh dalam race utama,” ujarnya.
Aspal baru Motegi dan soal cengkeraman
Sirkuit Twin Ring Motegi baru saja mendapat lapisan aspal baru. Quartararo menilai kondisi tersebut berpotensi membantu Yamaha, tetapi dampaknya bergantung pada tingkat cengkeraman yang tersedia. Ia ingin melihat lebih dulu bagaimana karakter lintasan sebelum menilai peluang timnya.
“Hal terpenting adalah melihat apakah cengkeramannya bagus. Itu bisa membantu kami,” kata pebalap yang dijuluki El Diablo itu. Pernyataannya menunjukkan bahwa kondisi permukaan menjadi salah satu hal yang perlu diamati Yamaha sejak awal akhir pekan balapan.
Cuaca di Motegi diperkirakan berubah-ubah sepanjang akhir pekan. Jack Miller berharap hujan turun karena kondisi tersebut, menurutnya, bisa memperbesar peluang meraih hasil yang lebih baik. Quartararo tidak melihat cuaca sebagai faktor yang otomatis menguntungkan Yamaha.
Ia menjelaskan, timnya masih kekurangan sejumlah aspek performa ketika lintasan basah, termasuk daya cengkeram. Karena itu, kondisi hujan maupun kering sama-sama menuntut Yamaha memahami kemampuan motor dan ban sebelum balapan berlangsung.
Perbedaan konstruksi ban jadi perhatian
Quartararo juga menyoroti perbedaan konstruksi karkas ban dibandingkan dengan yang digunakan di Austria. Ia ingin mengetahui karakter ban di Motegi dan membandingkannya dengan pengalaman pada seri sebelumnya. Pemahaman terhadap perbedaan itu akan menjadi bagian dari upayanya mencari batas kemampuan motor.
“Penting untuk benar-benar memahami karakteristik ban dan mencoba mengidentifikasi perbedaannya dibandingkan saat balapan di Austria, mengingat konstruksi karkasnya berbeda. Namun, saya akan mencoba mencari tahu seberapa jauh kami bisa memacu motor saat balapan nanti,” ujarnya.
Dengan sejumlah hal yang masih perlu dipastikan, Quartararo belum berbicara soal target hasil tertentu. Fokusnya adalah menemukan setelan dasar yang tepat dan tampil sebaik mungkin. Sikap itu sekaligus mencerminkan bahwa Yamaha masih berupaya memahami persoalan performanya, bukan sekadar mengandalkan posisi start atau perubahan cuaca.
Quartararo tak menyamakan Yamaha dengan KTM
Di Austria, KTM meraih kemenangan di balapan kandangnya setelah sekian lama menunggu. Ketika ditanya apakah Yamaha bisa mengulang pencapaian serupa di Motegi, Quartararo menilai situasi kedua pabrikan berbeda. Ia tidak melihat kemenangan KTM sebagai gambaran yang bisa langsung diterapkan pada Yamaha.
“Menurut saya, situasi kami benar-benar berbeda. Kami hanya berusaha menemukan set-up dasar yang tepat dan tampil sebaik mungkin. Saya yakin hasilnya tidak akan sama seperti yang dialami KTM di Austria, setidaknya tidak dalam hal kepuasan,” kata pebalap asal Prancis itu.
Balapan di Motegi akan memberi Yamaha kesempatan untuk mengukur hasil dari pencarian setelan dan pemahaman terhadap ban serta cengkeraman lintasan. Bagi Quartararo, target awalnya tetap jelas: menembus Q2, lalu mencari tahu seberapa jauh motor dapat dipacu saat balapan. Ia memilih menunggu data dari lintasan sebelum memasang harapan lebih tinggi.
