Nyeri dada yang muncul tiba-tiba bisa berkaitan dengan gangguan asam lambung atau serangan jantung. Keduanya dapat menimbulkan rasa panas, terbakar, maupun tertekan di dada. Karena gejalanya tumpang tindih, mengenali pola keluhan saja tidak cukup untuk memastikan penyebabnya.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Basuni Radi, SpJP, menjelaskan bahwa nyeri akibat penyakit jantung koroner kerap muncul ketika beban kerja jantung meningkat. Contohnya saat berjalan, beraktivitas, marah, atau mengalami stres. Pada tahap awal, keluhan dapat mereda ketika penderita beristirahat.
Sementara itu, nyeri akibat gastroesophageal reflux disease (GERD) lebih sering berkaitan dengan pola makan, misalnya saat terlambat makan atau makan terlalu cepat. Namun, pola tersebut bukan patokan pasti. Nyeri GERD juga dapat berlangsung lama, sedangkan keluhan jantung tidak selalu mengikuti pola yang sama pada setiap orang.
Gejala GERD dan serangan jantung bisa serupa
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi, dr Suwito Indra, Sp.PD, KGEH, menyebut kondisi ini dapat menimbulkan rasa panas seperti terbakar di tengah dada. Sensasi tersebut terkadang menjalar ke leher dan disertai rasa mengganjal di tenggorokan atau mulut terasa asam maupun pahit.
Sejumlah faktor dapat berkontribusi pada GERD, antara lain kelemahan otot lingkar di bagian bawah kerongkongan dan peningkatan tekanan di rongga perut. Makanan berlemak, kopi, rokok, serta obat-obatan tertentu juga disebut dapat berkaitan dengan keluhan. Kegemukan, diabetes, gangguan fungsi ginjal, banyaknya cairan di rongga perut, dan stres termasuk faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Adapun serangan jantung terjadi ketika aliran darah pada pembuluh koroner tersumbat sehingga otot jantung kekurangan oksigen. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Aron Husink, Sp.JP(K), FIHA, penyempitan pembuluh umumnya berkembang melalui penumpukan plak selama bertahun-tahun. Plak yang pecah dapat memicu bekuan darah dan menutup pembuluh dengan cepat.
Ciri nyeri jantung dan faktor risikonya
Nyeri serangan jantung dapat terasa seperti dada tertindih benda berat atau panas terbakar. Rasa sakit biasanya terasa dari dalam, meluas, dan bisa menjalar ke bahu atau lengan kiri, ulu hati, hingga kerongkongan. Karena nyeri juga dapat terasa seperti keluhan asam lambung, perbedaan sensasi semata tidak cukup untuk menyingkirkan kemungkinan serangan jantung.
Gejala lain yang dapat menyertai serangan jantung adalah keringat dingin, sesak napas, jantung berdebar, hingga pingsan. Keluhan bisa muncul saat atau setelah aktivitas berat, tetapi juga dapat terjadi ketika seseorang sedang beristirahat. Faktor risiko yang disebutkan antara lain usia di atas 40 tahun, laki-laki, merokok, kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, serta riwayat serangan jantung pada keluarga sedarah di usia muda.
Dokter Basuni mengingatkan bahwa nyeri ulu hati yang muncul tiba-tiba, terutama bila disertai keringat dingin, perlu diperiksa. Menentukan sendiri bahwa keluhan hanya GERD berisiko membuat serangan jantung terlambat dikenali. Pemeriksaan tenaga medis diperlukan karena gejala kedua kondisi dapat sangat mirip.
Pemeriksaan medis membantu memastikan penyebab
Untuk menilai dugaan serangan jantung, pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi elektrokardiogram (EKG) atau rekam jantung dan pemeriksaan enzim jantung, yaitu troponin. Bila ditemukan sumbatan, penanganan dapat berupa tindakan untuk membuka pembuluh darah sesegera mungkin. Dokter Aron menyampaikan bahwa tindakan dalam waktu kurang dari 12 jam sejak gejala pertama dirasakan memberi manfaat dan peluang keberhasilan yang lebih besar.
Pada dugaan GERD, dokter dapat mengevaluasi penyebab keluhan secara menyeluruh. Pemeriksaan endoskopi bisa digunakan untuk melihat peradangan atau kelainan pada kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari. Dalam pemeriksaan tertentu, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan untuk menilai kondisi selaput lendir.
Penanganan GERD dapat melibatkan obat pengendali keasaman lambung, tetapi obat saja belum tentu menyelesaikan seluruh masalah. Latar belakang keluhan juga perlu dicari dan ditangani. Jika nyeri dada muncul mendadak atau disertai gejala seperti sesak dan keringat dingin, pemeriksaan segera menjadi langkah penting—bukan menebak penyebabnya sendiri.
