Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah di Indonesia melintasi batas negara dan menyelimuti Malaysia serta Singapura. Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Syahganda Nainggolan menyebut penyebaran asap tersebut berada di luar kesalahan manusia dan merupakan fenomena alam. Pernyataan itu disampaikan di kantor Lemhannas, Jakarta, Sabtu (10/10).
“Jadi, kita juga minta kepada semua tetangga kita untuk mengerti ini adalah di luar beyond human error, ini betul-betul alam,” kata Syahganda. Ia menyampaikan hal itu saat pemerintah Indonesia menghadapi keresahan negara-negara tetangga yang terdampak kabut asap.
Asap dilaporkan meluas terutama di Kalimantan dan Sumatera. Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran juga terjadi di Palembang, Sumatera Selatan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Raja Ampat, Papua Barat Daya, serta sejumlah daerah lain.
Asap karhutla dan perdebatan soal penyebab
Pernyataan Bakom bahwa asap merupakan fenomena alam tidak sepenuhnya menjawab persoalan penyebab karhutla. Kontribusi pembakaran hutan, baik oleh korporasi maupun peladang berpindah, disebut sebagai bagian dari persoalan yang terus berulang di Indonesia selama puluhan tahun.
Perbedaan kondisi di wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia juga menjadi sorotan. Karhutla masif disebut tidak terjadi di wilayah Malaysia karena kebakaran yang muncul segera ditangani dan aktivitas di kawasan hutan diawasi dengan baik.
Di sisi lain, kondisi cuaca turut menyulitkan upaya pemadaman. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, mengatakan faktor cuaca menjadi salah satu tantangan dalam menangani api. Ia menyatakan Singapura siap membantu Indonesia.
“Kami sadar bahwa upaya (penanganan) sedang berlangsung. Kami siap membantu di mana pun kami bisa,” ujar Fu, sebagaimana dikutip The Straits Times. Ia menyampaikan pernyataan itu setelah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Jumhur Hidayat.
Indonesia jelaskan upaya penanganan kepada Malaysia
Bakom menyebut Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah mengirim utusan melalui menteri luar negerinya untuk membahas karhutla dengan Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir. Arrmanatha kemudian menjelaskan langkah penanganan Indonesia melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohammad Hasan.
Dalam penjelasan tersebut, Indonesia menyampaikan telah menerjunkan lebih dari 60.000 personel serta mengerahkan 48 helikopter dan pesawat. Armada itu digunakan untuk pemadaman melalui water bombing dan upaya pengalihan cuaca.
Arrmanatha mengatakan kebakaran di Sumatera dan Kalimantan masih menjadi tantangan. Pemerintah berharap hujan yang diperkirakan turun dapat membantu meredakan karhutla.
Malaysia juga menyatakan kesiapan memberikan bantuan. Presiden Prabowo Subianto disebut telah menyetujui tawaran tersebut, sementara mekanisme operasi—termasuk pelaksanaan dan lokasi penempatan tim Malaysia—masih perlu dibahas.
“Saya berharap perundingan mengenai operasi ini, termasuk bagaimana dan di mana tim dari Malaysia dapat membantu, bisa segera diselesaikan,” kata Mohammad Hasan, seperti dikutip Harian Metro.
Hasan menyebut kabut asap di Malaysia semakin parah, telah melewati kategori tidak sehat dan mendekati tingkat berbahaya. Singapura juga mengutarakan kesiapan membantu ketika kualitas udara di negara itu memburuk akibat asap.
Dampak kabut asap dirasakan warga
Dampak karhutla tidak berhenti pada persoalan hubungan antarnegara. Di Indonesia, kabut asap mengganggu kesehatan dan penerbangan, sementara sebagian anak sekolah harus mengikuti pembelajaran jarak jauh. Penghasilan warga, termasuk pengemudi ojek daring dan petani, juga ikut terdampak.
Kementerian Kesehatan mengingatkan partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, mencapai kantong paru-paru, bahkan pembuluh darah. Risiko semakin besar jika kualitas udara buruk bertahan lama dan polusi PM2.5 bercampur dengan asap kendaraan, debu, serta emisi industri.
Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat meningkat 1,8 hingga 3,8 kali lipat saat kabut asap pekat. Paparan asap juga dapat memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta memicu gangguan jantung.
Besarnya dampak kesehatan dan meluasnya asap membuat penanganan karhutla menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya bagi Indonesia. Bantuan negara tetangga telah ditawarkan, tetapi langkah pemadaman dan pengawasan kawasan hutan tetap menjadi bagian penting dari upaya agar krisis serupa tidak terus berulang.
