Ketika satu orang tertawa, suasana di sekitarnya dapat ikut berubah. Namun, mengapa orang lain lalu tertawa juga belum dijelaskan secara khusus dalam bahan yang tersedia. Sejumlah riset dan pengalaman yang dikutip menunjukkan hal lain yang tak kalah penting: humor dan tawa dapat membantu membangun suasana hati yang lebih baik serta memberi dampak positif pada kesehatan.
Manfaat itu bukan berarti tertawa bisa menggantikan pengobatan. Bukti yang ada lebih tepat dibaca sebagai petunjuk bahwa humor dapat menjadi salah satu cara mendukung kesejahteraan, termasuk ketika seseorang menghadapi rasa sakit atau tekanan emosional.
Tawa dan kesehatan: manfaat yang perlu dipahami secara proporsional
Kisah Norman Cousins kerap disebut saat membahas hubungan tawa dengan kesehatan. Pada 1964, editor majalah Saturday Review itu didiagnosis mengalami ankylosing spondylitis, peradangan pada tulang belakang. Kondisinya tidak membaik dengan sejumlah obat yang diberikan dan dokter memperkirakan hidupnya tinggal beberapa bulan.
Cousins kemudian menjalani perawatan di kamar hotel dengan pengawasan seorang dokter yang sepemikiran. Selain vitamin C dosis tinggi, ia menonton film komedi, termasuk karya Marx Brothers dan episode Candid Camera. Ia merasa gejalanya berangsur mereda dan menggunakan tawa sebagai salah satu ukuran kemajuan yang ia rasakan.
Perubahan kondisi Cousins juga tercatat pada laju sedimentasi sel darah merah, indikator peradangan yang disebut dalam kisah tersebut. Angkanya turun dari tingkat sangat tinggi ke normal seiring membaiknya kondisi tubuh. Pengalaman itu kemudian ia ceritakan dalam buku Anatomy of an Illness as Perceived by the Patient, yang terbit pada 1979.
“Sepuluh menit tertawa memberi saya dua jam tidur tanpa rasa sakit. Tertawa menghasilkan anestesi tubuh alami,” kata Cousins. Pernyataan itu menggambarkan pengalamannya sendiri, bukan rumus yang memastikan tawa akan menyembuhkan penyakit. Ia meninggal pada 1990 akibat penyakit jantung koroner dan gagal jantung kongestif, 26 tahun setelah vonis dokter terkait peradangan tulang belakang.
Humor dapat membantu menghadapi rasa sakit
Sejumlah penelitian yang dikutip dokter anak Howard J. Bennet dalam artikel “Humour in Medicine” di Southern Medical Journal pada Desember 2003 menelaah dampak film lucu terhadap pasien. Salah satu temuan yang disampaikan adalah kemampuan pasien menoleransi rasa sakit meningkat setelah terpapar film komedi.
Pada pasien ortopedi, efeknya tidak tampak sehari setelah operasi. Namun, pada hari kedua, permintaan terhadap analgesik ringan seperti aspirin dilaporkan turun 61 persen. Pasien yang tidak mengetahui film apa yang mereka tonton tidak menunjukkan perbaikan serupa dibanding mereka yang mengetahui isi tontonan. Temuan tersebut dinilai memberi petunjuk bahwa humor dapat berperan dalam pengendalian nyeri, meski bukan pengganti perawatan medis.
Pengaruh tawa juga dibahas dari sisi kesehatan mental. Ulwan Fakhri, peneliti humor dari Institut Humor Indonesia Kini, menyebut humor dapat membantu menjaga kebahagiaan diri atau well-being. Ia merujuk sejumlah riset yang menunjukkan bahwa mengingat humor berkaitan dengan tingkat depresi lebih rendah dibanding mengingat kenangan masa kecil yang berkesan.
Menciptakan ruang untuk tertawa
Menurut Ulwan, masyarakat dapat menggunakan humor untuk membangun suasana hati yang lebih baik. Salah satu cara sederhana yang ia sarankan adalah menuliskan tiga hal yang membuat seseorang tertawa. Latihan itu disebut sebagai intervensi menggunakan humor untuk well-being.
Tertawa tidak selalu mudah muncul, terutama ketika seseorang sedang menghadapi musibah, bencana, atau cobaan. Karena itu, tawa juga dapat dilatih melalui kegiatan yang memang dirancang untuk menciptakan suasana gembira. Salah satunya yoga ketawa, yang menggabungkan tawa lepas dengan pernapasan yoga.
Dalam kegiatan tersebut, peserta biasanya memulai dengan bertepuk tangan dan meneriakkan yel-yel seperti “ho-ho-ha-ha-ha”. Gerakan bermain dan pose yoga menyusul, sebelum sesi mencapai puncak tawa dan ditutup dengan relaksasi serta olah napas. Kegiatan itu memperlihatkan bahwa tawa dapat diupayakan, bukan semata menunggu muncul spontan.
Data survei Gallup 2019 memberi gambaran tentang pengalaman positif sehari-hari. Survei terhadap 151.000 orang dewasa di 143 negara itu mencatat tujuh dari sepuluh responden mengatakan mereka tersenyum dan tertawa, sementara 71 persen merasa senang. Indonesia berada di posisi keenam indeks kepuasan hidup dengan skor 83 dan menjadi satu-satunya negara Asia dalam sepuluh besar.
Angka tersebut tidak menjelaskan bagaimana tawa seseorang memicu tawa orang lain. Namun, berbagai temuan yang dikutip menunjukkan alasan untuk memberi ruang bagi humor: ia dapat membantu suasana hati dan, dalam konteks tertentu, mendukung pengelolaan rasa sakit. Tertawa bukan obat untuk semua masalah, tetapi sesekali berbagi humor bisa menjadi langkah sederhana untuk menghadirkan jeda yang lebih ringan dalam hari yang berat.
