Batuan metamorf dari Kompleks Melange Luk Ulo, Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan rekaman subduksi purba yang berlangsung lebih dari 70 juta tahun lalu. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terhadap batuan tersebut membantu menggambarkan kondisi tekanan dan suhu di dalam bumi pada Masa Kapur.
Temuan ini menunjukkan bahwa batuan yang tampak biasa dapat menjadi arsip perjalanan lempeng tektonik. Karakteristik mineral di dalamnya memberi petunjuk tentang lingkungan tempat batuan terbentuk, termasuk proses ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Mineral batuan mengungkap kondisi masa lampau
Peneliti BRIN, Isyqi, menjelaskan bahwa karakteristik batuan metamorf memungkinkan peneliti memperkirakan suhu dan tekanan yang menyertainya saat terbentuk. Informasi tersebut menjadi dasar untuk merekonstruksi dinamika lempeng dan memahami evolusi tektonik Nusantara pada masa lalu.
“Batuan-batuan tersebut adalah arsip sejarah alam yang nyata, yang merekam secara otentik perjalanan lempeng dan dinamika evolusi tektonik Nusantara di masa lampau,” ujar Isyqi, dikutip dari laman BRIN.
Salah satu bahan yang dikaji berupa sampel filit grafit dan sekis mika. Peneliti menggunakan analisis termometri klorit, barometri fengit, serta spektroskopi Raman untuk menaksir kondisi pembentukan kedua batuan berdasarkan ciri mineralnya.
Hasil analisis menunjukkan filit grafit terbentuk pada tekanan sekitar 4–6 kilobar dan suhu 340–380 derajat Celsius. Kisaran itu sesuai dengan fasies greenschist atau sekis hijau, salah satu kondisi metamorfisme yang dapat dialami batuan di dalam bumi.
Sementara itu, sekis mika menunjukkan tekanan pembentukan yang jauh lebih tinggi, yakni 15–16 kilobar, dengan suhu 350–380 derajat Celsius. Perbedaan tekanan yang mencolok antara dua sampel tersebut menjadi petunjuk penting untuk membaca proses geologi yang pernah berlangsung di kawasan itu.
Tekanan tinggi memperkuat petunjuk subduksi
Tekanan tinggi pada sekis mika memperkuat keterkaitan batuan tersebut dengan lingkungan subduksi. Dalam proses ini, satu lempeng tektonik bergerak masuk ke bawah lempeng lain, membawa batuan menuju kedalaman tempat tekanan dan temperatur memengaruhi mineral, tekstur, serta strukturnya.
Perbedaan kondisi pembentukan filit grafit dan sekis mika bukan sekadar angka. Bersama data mineral dan geokimia, variasi itu membantu peneliti menyusun gambaran mengenai lingkungan yang pernah dialami batuan. Kondisi tersebut tidak lagi bisa diamati secara langsung karena prosesnya berlangsung jauh di dalam bumi dan telah terjadi jutaan tahun silam.
Batuan metamorf sendiri terbentuk ketika batuan asal mengalami perubahan akibat temperatur, tekanan, dan interaksi dengan fluida di dalam bumi. Batuan asalnya dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, ataupun batuan metamorf yang lebih tua.
Metamorfisme tidak hanya terjadi di zona subduksi. Proses perubahan batuan ini juga dapat berlangsung di kawasan tumbukan antarbenua, sekitar intrusi magma, dan punggungan tengah samudra. Dalam kondisi tertentu, gelombang kejut akibat tumbukan meteorit pun dapat memicu metamorfisme.
Karena itu, satu jenis batuan tidak berdiri sendiri sebagai penjelasan sejarah geologi. Para peneliti membaca karakter mineral dan kondisi pembentukannya untuk merangkai petunjuk yang tersedia. Pada kasus Luk Ulo, hasil analisis memberi gambaran tentang tekanan dan suhu yang berkaitan dengan perjalanan batuan dalam lingkungan tektonik purba.
Koleksi geologi Karangsambung mendukung penelitian
Penelitian kebumian di kawasan tersebut didukung oleh Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas BRIN di Karangsambung, Kebumen. Kawasan ini mengelola 852 koleksi geomaterial, yang terdiri atas 231 batuan beku, 328 batuan sedimen, 172 batuan metamorf, dan 121 mineral.
Koleksi tersebut berfungsi sebagai bahan pembelajaran sekaligus sumber informasi ilmiah untuk menelusuri pembentukan batuan dan sejarah geologi Indonesia. Ragam material yang tersimpan memberi ruang bagi penelitian untuk membandingkan karakter batuan dan membaca proses alam yang membentuknya.
Isyqi berharap masyarakat melihat batuan bukan hanya sebagai benda koleksi. Di balik bentuk dan mineralnya, batuan menyimpan rekaman proses yang berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang. Penelitian terhadap sampel dari Luk Ulo memperlihatkan bagaimana bukti geologi dapat membantu menjelaskan perjalanan lempeng pada masa lampau.
Dengan analisis yang terus dilakukan dan dukungan koleksi ilmiah, kawasan Karangsambung menyimpan peluang untuk memperdalam pemahaman tentang evolusi tektonik Nusantara. Batuan-batuan di sana bukan sekadar bagian dari bentang alam, melainkan jendela untuk membaca sejarah bumi yang tidak dapat disaksikan secara langsung.
