Komedian Nunung mengatakan rumah makan miliknya di Solo, Jawa Tengah, mengalami penurunan omzet tajam dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Di tengah warung yang mendadak sepi, keluarga yang mengelolanya berulang kali menemukan benda mencurigakan di sekitar halaman parkir dan pintu masuk joglo. Nunung menduga benda itu berupa tanah kuburan, tetapi mengaku tak mengetahui siapa yang meletakkannya.
Nunung menceritakan kejadian tersebut saat ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Senin (5 Oktober 2026). Ia mengatakan temuan itu bukan hanya terjadi sekali. Keluarganya bahkan menyimpan foto benda yang ditemukan di sekitar warung.
“Tanah kuburan. Itu berkali-kali seperti ini. Nah, nih. Ya sembarang aja, pokoknya enggak tahu dilempar atau apa, aku enggak ngerti,” kata Nunung.
Ia menyebut benda-benda itu ditemukan di halaman parkir dan area menuju joglo warung. Dalam foto yang diperlihatkan kepada awak media, tampak bungkusan putih kumal berisi sesuatu berwarna cokelat tua yang menyerupai tanah. Klaim bahwa isinya tanah kuburan berasal dari Nunung; ia mengaku tidak mengetahui bagaimana benda tersebut bisa sampai di sana.
Nunung sempat meminta keluarga mengevaluasi warung
Meski curiga ada kaitan antara temuan itu dan turunnya jumlah pelanggan, Nunung mengatakan dirinya tidak langsung percaya pada hal-hal gaib. Ia lebih dulu meminta keluarga memeriksa keadaan usaha dari dalam, termasuk kualitas masakan dan pelayanan.
“Sebetulnya kalau aku pertama kali dikasih laporan, dikasih fotonya gitu, buat aku sih percaya enggak percaya karena aku orangnya enggak percayaan hal-hal kayak gitu,” tuturnya. Ia mengatakan tetap berusaha berpikir positif dan mendorong keluarga untuk membenahi hal-hal yang bisa mereka kendalikan.
Nunung menyebut rasa masakan tidak berubah dan bahan baku dibeli segar setiap hari. Namun, warung tetap mengalami penurunan pengunjung. Sejumlah pelanggan bahkan bertanya kepada adiknya mengapa rumah makan itu sering tutup, padahal, menurut Nunung, warung tetap beroperasi dan hanya libur setiap Senin.
Pengalaman lain membuat situasi itu terasa semakin janggal bagi keluarga. Nunung bercerita, beberapa kali ada tiga mobil yang datang dan sudah diarahkan oleh tukang parkir, tetapi kemudian berbalik pergi sebelum masuk.
“Banyak sekali langganan bilang ke adik saya, menanyakan kenapa warung tutup terus, padahal enggak pernah tutup. Pernah juga ada tiga mobil datang sudah mau parkir dan sudah diarahkan tukang parkir, tapi tiba-tiba putar balik,” kata Nunung.
Warung sempat ramai setelah benda dibuang
Nunung juga mengamati pola yang menurutnya muncul setelah benda-benda itu ditemukan dan dibuang. Ia mengatakan warung sempat kembali ramai setelah benda tersebut disingkirkan. Namun, keadaan itu hanya bertahan sekitar sepekan sebelum keluarga kembali menemukan kiriman serupa.
“Lucunya itu kalau habis dibuang, warung ramai lagi, banyak orang makan lumayan. Kemarin sudah dibuang, bertahan seminggu, lalu ada kiriman lagi,” ujarnya. Saat warung sepi, para pegawai bahkan ikut mencari benda tersebut hingga ke sudut-sudut area rumah makan.
Meski menghubungkan waktu temuan dengan perubahan jumlah pengunjung, Nunung tidak menyampaikan bukti yang memastikan penyebab turunnya omzet. Ia pun menegaskan bahwa awalnya dirinya memilih untuk tidak langsung menyimpulkan sesuatu, dan meminta keluarga memeriksa kondisi usaha terlebih dahulu.
Bisnis kuliner Nunung berawal di Solo
Nunung telah beberapa tahun terakhir menekuni bisnis rumah makan yang menyajikan masakan khas Jawa dengan resep-resep lawas yang dikuasainya. Usaha itu bermula di Solo dan kemudian berkembang hingga memiliki cabang di sejumlah daerah lain. Salah satunya berada di Jakarta, yang dijalankan melalui kerja sama dengan Vicky Prasetyo.
Bisnis kuliner tersebut dijalani Nunung setelah ia pulih dari penyakit kanker beberapa tahun lalu. Kini, penurunan omzet di Solo menjadi tantangan baru bagi usaha yang sebelumnya berkembang. Cerita mengenai benda mencurigakan itu menjadi bagian dari pengalaman keluarga, tetapi evaluasi kualitas makanan, pelayanan, dan operasional tetap menjadi langkah yang dapat diperiksa langsung oleh pengelola.
Nunung belum menyebut siapa yang diduga meletakkan benda-benda tersebut atau apa motifnya. Sementara keluarga terus menghadapi kondisi warung yang naik-turun, pelanggan dapat memastikan informasi jam operasional langsung kepada pengelola agar tidak keliru mengira rumah makan itu tutup.
