Kasus influenza di Jakarta meningkat sekitar 15 persen dalam beberapa waktu terakhir. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kenaikan itu masih tergolong ringan dan belum menunjukkan kondisi wabah, tetapi warga yang mengalami gejala flu atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) diminta segera memeriksakan diri.
Pramono mengatakan angka tersebut ia peroleh setelah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan jajaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ia menyampaikan keterangan itu saat menghadiri puncak peringatan Hari Perhubungan Nasional tingkat Provinsi DKI Jakarta 2026 di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (29/9/2026).
“Memang ada kenaikan, tetapi sebenarnya kenaikannya kecil sekali,” kata Pramono. Ia meminta masyarakat tidak panik, namun tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama apabila gejala yang dirasakan memburuk.
Menurut Pramono, kenaikan sekitar 15 persen itu masih jauh dari angka yang ia sebut sebagai ambang outbreak atau wabah. Ia mengatakan kondisi baru dianggap mengarah ke outbreak jika kenaikannya berada di atas 150 persen.
Aktivitas influenza nasional masih dalam rentang medium
Peningkatan tidak hanya tercatat di Jakarta. Kemenkes juga mengamati aktivitas influenza yang meningkat di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Meski begitu, berdasarkan surveilans hingga minggu ke-38 2026, situasi influenza di Indonesia masih berada dalam rentang medium.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kenaikan tersebut perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. “Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium,” ujarnya.
Pada minggu ke-38, surveilans sentinel mencatat positivity rate influenza sebesar 56 persen. Dari 265 spesimen yang diperiksa, 148 dinyatakan positif influenza. Virus yang paling banyak ditemukan adalah Influenza A (H1N1pdm09).
Kemenkes menyebut aktivitas influenza yang meningkat pada Agustus hingga September masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terjadi di Indonesia. Data tersebut menjadi salah satu dasar pemantauan, sementara pemerintah tetap mengawasi pergerakan virus melalui fasilitas kesehatan dan laboratorium.
Kemenkes pantau subclade K dan penggunaan antivirus
Perhatian juga tertuju pada Influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan ramai disebut masyarakat sebagai “superflu”. Budi menegaskan, istilah tersebut bukan nomenklatur resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Berdasarkan data surveilans Kemenkes, temuan subclade K pada 2026 justru lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 2026, surveilans sentinel ILI-SARI mencatat 188 hasil pemeriksaan. Sebanyak 166 temuan berasal dari 2025, sementara 22 lainnya tercatat pada 2026.
Pemantauan subclade K dilakukan melalui surveilans di puskesmas, rumah sakit, laboratorium, serta balai kekarantinaan kesehatan. Kemenkes juga mengingatkan bahwa sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap.
Obat antivirus oseltamivir pun tidak diberikan kepada semua pasien. Budi mengatakan penggunaannya perlu dibatasi dan disesuaikan dengan kondisi pasien, terutama bagi mereka yang mengalami kondisi berat atau memiliki penyakit penyerta.
“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” kata Budi.
Warga bergejala diminta memeriksakan diri
Pramono meminta warga yang merasa mengalami flu, termasuk dugaan flu A, maupun ISPA untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan. Imbauan itu disampaikan meskipun kenaikan kasus di Jakarta dinilai belum mengarah pada wabah.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai, serta menjaga etika ketika batuk dan bersin. Warga diminta mencari pertolongan medis apabila gejala memburuk.
Perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok yang berisiko mengalami komplikasi, yakni bayi dan anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta. Bagi kelompok tersebut, mengenali gejala dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting ketika kondisi kesehatan berubah.
Peningkatan aktivitas influenza menjadi pengingat bahwa pemantauan kesehatan tetap diperlukan, sekalipun situasinya masih terkendali. Warga dapat mengikuti perkembangan informasi dari otoritas kesehatan dan mengambil langkah pencegahan sesuai kondisi, tanpa terburu-buru menyimpulkan bahwa kenaikan kasus berarti wabah.
