Beverly Morris mengaku tak lagi nyaman menggunakan air dari keran rumahnya sejak sebuah pusat data milik Meta berdiri sekitar 360 meter dari rumahnya di Mansfield, Georgia, Amerika Serikat. Perempuan yang pensiun pada 2016 itu menduga pembangunan fasilitas tersebut mengganggu sumur pribadinya. Meta membantah pusat data mereka merusak kondisi air tanah.
Rumah yang semula dianggap Morris sebagai tempat ideal untuk menikmati suasana pedesaan kini menghadirkan masalah sehari-hari. Ia harus membawa air dengan ember untuk menyiram toilet. Pipa dapur pun perlu diperbaiki agar tekanan air kembali, tetapi endapan masih terlihat ketika air mengalir.
“Saya takut minum air itu, tapi saya tetap memasak dan menyikat gigi dengan air itu,” kata Morris, seperti dikutip BBC. Ia mengatakan tak bisa tinggal nyaman di rumah jika sebagian fasilitasnya tidak berfungsi dan air tidak tersedia.
Keluhan warga dan bantahan Meta
Morris meyakini pembangunan pusat data Meta menjadi penyebab gangguan pada sumurnya. Namun, keyakinan itu belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Meta menyatakan kepada BBC bahwa pembangunan fasilitasnya tetap menghormati masyarakat sekitar.
Perusahaan tersebut juga mengatakan telah melakukan riset independen terhadap air tanah untuk menanggapi kekhawatiran Morris. Menurut Meta, hasil penelitian menunjukkan operasional pusat data mereka “tidak berdampak negatif” terhadap kondisi air tanah di kawasan itu.
Penjelasan perusahaan belum mengubah pandangan Morris. Ia masih merindukan keadaan sebelum pusat data berdiri. “Dulu ini adalah tempat yang sempurna bagi saya,” ujarnya.
Pengalaman Morris terjadi di tengah pertumbuhan pusat data yang kian pesat. Fasilitas berisi server dan kabel itu menopang layanan digital, mulai dari perbankan daring hingga perangkat kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Infrastruktur yang kerap disebut “cloud” itu sesungguhnya hadir dalam bentuk bangunan fisik, dengan kebutuhan energi dan air yang nyata.
Kebutuhan air pusat data jadi sorotan
Menurut laporan BBC, terdapat lebih dari 10.000 pusat data di seluruh dunia. Sebagian besar berada di Amerika Serikat, disusul Inggris dan Jerman. Lonjakan aktivitas daring yang didorong kecerdasan buatan ikut mempercepat pembangunan fasilitas baru, sekaligus memunculkan lebih banyak keluhan dari warga yang tinggal di sekitarnya.
Salah satu persoalan yang disorot adalah penggunaan air untuk mendinginkan server. Prosesor menghasilkan panas, sementara sejumlah pusat data mengandalkan sistem pendinginan evaporatif: air menyerap panas lalu menguap. Pada hari yang panas, satu fasilitas dapat menggunakan jutaan galon air.
Sebuah studi yang dikutip BBC memperkirakan pusat data berbasis kecerdasan buatan dapat mengonsumsi 1,7 triliun galon air secara global pada 2027. Angka tersebut merupakan proyeksi, tetapi menggambarkan besarnya perhatian terhadap kebutuhan air ketika industri pusat data terus berkembang.
Di Amerika Serikat, ekspansi itu juga menghadapi penolakan di tingkat lokal. Data Center Watch, organisasi nirlaba yang memantau perkembangan proyek pusat data, melaporkan proyek senilai 64 miliar dolar AS tertunda atau diblokir di berbagai wilayah. Keberatan warga tidak hanya menyangkut pembangunan, tetapi juga sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan fasilitas.
Pembangunan dan kekhawatiran terhadap perairan
Georgia menjadi salah satu pasar pusat data yang tumbuh cepat di Amerika Serikat. Iklimnya yang lembap menyediakan sumber air alami dan dinilai lebih hemat biaya untuk mendinginkan fasilitas. Namun, ketersediaan air itu tidak serta-merta menghapus kekhawatiran mengenai dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar.
Gordon Rogers, Direktur Eksekutif Flint Riverkeeper, kelompok nirlaba yang memantau kesehatan Sungai Flint, membawa BBC ke anak sungai di bawah lokasi pembangunan pusat data baru oleh perusahaan AS, Quality Technology Services (QTS). Di sana, relawan setempat George Dietz mengambil sampel air yang tampak keruh dan kecokelatan.
Dietz menilai warna air tersebut tidak semestinya demikian. Rogers dan relawan menduga kekeruhan itu mengindikasikan limpasan sedimen, serta kemungkinan adanya flokulan—bahan kimia yang digunakan dalam konstruksi untuk mengikat tanah dan mencegah erosi. Jika masuk ke sistem perairan, bahan tersebut dapat menimbulkan endapan lumpur. Namun, temuan visual itu sendiri tidak memastikan penyebab maupun kandungan air.
QTS menyatakan pusat datanya memenuhi standar lingkungan yang tinggi dan menyumbang pajak lokal hingga jutaan dolar. BBC juga mencatat pembangunan fasilitas kerap dikerjakan kontraktor pihak ketiga, sementara warga di sekitar lokasi merasakan konsekuensi yang mereka khawatirkan. Perdebatan itu menunjukkan tantangan yang perlu dihadapi seiring bertambahnya pusat data: memastikan kebutuhan teknologi berjalan beriringan dengan perlindungan air dan keterlibatan masyarakat setempat.
