Gurita California dua bintik mampu menggunakan pantulan cermin untuk menemukan mangsa yang tidak terlihat langsung. Dalam penelitian yang terbit di jurnal Current Biology pada 22 Juni 2026, hewan itu memilih arah yang ditunjukkan melalui cermin dengan tingkat keberhasilan 70 persen.
Temuan ini memperlihatkan cara gurita memanfaatkan petunjuk visual untuk memecahkan masalah. Namun, penelitian tersebut bukan tes klasik untuk mengukur apakah hewan mengenali dirinya di cermin. Para peneliti menguji apakah gurita dapat memakai pantulan sebagai alat untuk menemukan mangsa tersembunyi.
Belajar membaca pantulan cermin
Sebelum pengujian utama, peneliti lebih dulu membantu gurita terbiasa dengan cermin. Langkah ini penting karena pantulan dapat dianggap sebagai kehadiran hewan lain atau ancaman. Gurita dinilai sudah beradaptasi setelah mau makan di depan cermin.
Berikutnya, gurita menjalani latihan mencari kepiting di dalam toples kaca. Toples itu ditempatkan di balik sudut, sehingga tidak dapat dilihat secara langsung dan hanya tampak melalui pantulan cermin.
Pada percobaan awal, gurita justru bergerak menuju cermin. Namun, setelah menjalani 10 hingga 12 kali percobaan, mereka mulai mengamati pantulan dan menggunakannya untuk mengetahui arah menuju toples berisi kepiting.
Latihan itu menjadi bekal sebelum gurita menghadapi tes berikutnya. Peneliti ingin memastikan hewan tersebut benar-benar mengandalkan informasi visual dari cermin, bukan aroma atau sentuhan dari mangsa.
Tes kepiting virtual menguji arah pilihan
Dalam tes utama, kepiting yang digunakan bersifat virtual. Gurita ditempatkan di dalam kotak kecil dengan posisi menghadap cermin besar. Bagian atas kotak terbuka, sementara sebuah layar di luar kotak menampilkan kepiting yang hanya dapat dilihat gurita melalui pantulan cermin.
Untuk mencapai kepiting, gurita harus keluar dari kotak, berbalik, lalu bergerak ke sisi yang sebelumnya ditunjukkan oleh cermin. Dengan pengaturan ini, peneliti dapat melihat apakah gurita mampu menghubungkan pantulan dengan lokasi mangsa yang sebenarnya.
Hasilnya, gurita memilih sisi yang tepat dalam 70 persen percobaan. Peneliti menguji hasil itu secara statistik dan menyebut keberhasilan tersebut kecil kemungkinannya terjadi hanya karena kebetulan.
Meski begitu, tidak semua gurita mengikuti jalur yang dirancang peneliti. Dalam 59 persen percobaan yang berhasil, sebagian hewan mengambil jalan pintas dengan memanjat dinding kotak dan melewati bagian atasnya yang terbuka.
Perilaku itu menjadi salah satu bagian yang paling mencolok dalam pengamatan. Gurita tidak sekadar menjalankan rute yang diperkirakan, tetapi juga menemukan cara lain untuk mencapai sasaran.
Kecerdasan gurita punya caranya sendiri
Mary Kieseler, penulis utama penelitian, mengatakan kepada Popular Science bahwa seekor gurita bahkan berhasil menyelesaikan tugas pada percobaan pertamanya. Menurut dia, kemampuan memanjat itu juga menunjukkan bahwa cara gurita memahami lingkungan tidak selalu sama dengan cara manusia memandang ruang.
“Pemahaman mereka tentang lingkungan tampaknya lebih tiga dimensi daripada kita (manusia). Kita tidak bisa begitu saja berjalan memanjat dinding, gurita bisa,” ujar Kieseler.
Ia juga mengingatkan agar kecerdasan hewan tidak selalu dinilai dengan ukuran manusia. Hewan yang cara berpikir dan tindakannya berbeda bukan berarti kurang cerdas. Gurita, menurut Kieseler, memiliki kecerdasan dengan caranya sendiri.
Temuan ini memberi gambaran tentang bagaimana gurita belajar dari pengalaman dan menggunakan petunjuk di sekitarnya untuk menyelesaikan masalah. Tes tersebut tidak membuktikan bahwa gurita memahami cermin seperti manusia, tetapi menunjukkan bahwa pantulan dapat membantu mereka menentukan arah menuju mangsa.
Penelitian lanjutan dapat memperluas pemahaman tentang cara gurita membaca lingkungan dan memilih jalur. Untuk saat ini, hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa melihat pantulan saja belum tentu cukup: gurita juga harus menghubungkannya dengan posisi mangsa dan menentukan tindakan yang paling efektif.
