Indonesia berada di kawasan Anomali Ionisasi Ekuator atau Equatorial Ionization Anomaly (EIA), wilayah tempat ionosfer sangat aktif dan dinamis. Kondisi ini dapat mengganggu sinyal satelit dan menurunkan akurasi Global Positioning System (GPS), mulai dari kesalahan posisi hingga hilangnya sinyal.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agri Faturahman, mengatakan dinamika ionosfer Indonesia perlu dipahami karena berdampak pada penggunaan sistem navigasi satelit. Risiko gangguan, menurut dia, bukan semata persoalan ilmiah, tetapi juga menyangkut kebutuhan operasional di lapangan.
“Pemahaman komprehensif dan mendalam mengenai dampak kondisi ionosfer terhadap Global Navigation Satellite System (GNSS) sangat esensial untuk memitigasi risiko gangguan operasional di lapangan,” kata Agri dalam keterangan yang dikutip CNBC Indonesia, Kamis (22/10/2026).
Mengapa Indonesia berada di zona anomali ionosfer?
Istilah “anomali” merujuk pada kondisi yang menyimpang dari pola yang biasanya diperkirakan. Di wilayah ekuator, misalnya, orang dapat menduga kepadatan elektron paling tinggi karena kawasan ini menerima banyak sinar Matahari. Namun, pola di ionosfer justru berbeda.
Agri menjelaskan, konsentrasi elektron di garis ekuator magnetik menurun, lalu meningkat di dua wilayah yang berada sekitar 15 derajat lintang utara dan selatan. Indonesia berada di sekitar kawasan penumpukan tersebut, yang menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas ionosfer tinggi.
Fenomena itu dikenal sebagai efek air mancur ekuator atau Equatorial Fountain Effect. Medan listrik dan medan magnet Bumi mengangkat plasma dari ekuator. Setelah itu, gaya gravitasi membawanya kembali ke wilayah lintang utara dan selatan, sehingga plasma menumpuk di kedua sisi.
Agri mengibaratkannya seperti air yang menyembur di tengah kolam, kemudian jatuh dan berkumpul di sisi kiri serta kanan. Dalam gambaran tersebut, ekuator justru relatif kekurangan elektron, sedangkan wilayah di sekitarnya mengalami penumpukan plasma. Posisi Indonesia di area itu membuatnya rentan terhadap gangguan ionosfer.
Tiga gangguan yang dapat memengaruhi sinyal GPS
BRIN mengidentifikasi tiga bentuk gangguan ionosfer yang dapat memengaruhi sinyal satelit. Pertama, badai ionosfer yang berkaitan dengan lontaran massa korona dari Matahari. Kedua, gelembung plasma yang muncul pada malam hari. Ketiga, gangguan ionosfer merambat yang dapat dipicu letusan gunung berapi atau badai tropis.
Dampaknya pada GPS muncul dalam dua bentuk utama. Gangguan pertama berupa penundaan atau delay: sinyal melambat saat melewati ionosfer, sehingga penerima GPS memperkirakan satelit berada lebih jauh daripada posisi sebenarnya.
Gangguan kedua disebut sintilasi. Ketika sinyal terhambur akibat ketidakteraturan plasma, penerima dapat kehilangan kuncian sinyal secara mendadak, atau mengalami Loss of Lock. Akibatnya, perangkat bisa kesulitan mempertahankan penerimaan sinyal satelit secara stabil.
Dalam kondisi standar tanpa koreksi, kesalahan posisi pada GNSS umumnya berkisar 5 hingga 10 meter. Ionosfer menyumbang porsi besar dari kesalahan itu, sekitar 5 meter, terutama di kawasan dengan aktivitas ionosfer tinggi seperti Indonesia. Besar gangguan yang terjadi dapat berkaitan dengan kondisi ionosfer dan cuaca antariksa.
Memahami kaitan atmosfer dan navigasi satelit
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa BRIN, La Ode Muhammad Musafar Kilowasid, menjelaskan bahwa kajian atmosfer menghubungkan peristiwa di permukaan Bumi dengan fenomena di lingkungan antariksa. Penelitian timnya berfokus pada atmosfer atas dan keterkaitannya dengan Space Situational Awareness (SSA), bukan pada ramalan cuaca harian atau siklus hujan di daratan.
Menurut Musafar, yang diteliti adalah bagaimana materi, energi, dan momentum dari proses pembentukan cuaca dapat merambat ke lapisan atmosfer atas dan memicu gangguan. Dengan kata lain, fenomena yang bermula di atmosfer bawah dapat memiliki dampak pada lingkungan yang dilalui sinyal satelit.
Ia juga menekankan bahwa atmosfer bukan selubung gas yang diam. Energi Matahari terus memengaruhi atmosfer dan lingkungan antariksa Bumi, sementara pemanasan yang berbeda-beda turut menciptakan perubahan kondisi. Pemahaman atas hubungan antarlapisan ini menjadi bagian penting dalam mengkaji gangguan terhadap GNSS.
Kerentanan wilayah Indonesia terhadap dinamika ionosfer membuat pemantauan dan pemahaman kondisi tersebut relevan bagi penggunaan navigasi satelit. Kajian BRIN mengenai hubungan atmosfer atas dan sinyal GNSS dapat membantu menjelaskan sumber gangguan, sekaligus menjadi landasan untuk memitigasi risiko operasional di lapangan.
