Penyakit jantung koroner yang tidak ditangani dengan baik dapat membawa dampak serius, mulai dari menurunnya kualitas hidup hingga meningkatnya risiko kematian. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah gagal jantung, tahap akhir dari berbagai penyakit kardiovaskular yang dapat membuat pasien lebih sering dirawat di rumah sakit.
Data World Heart Federation yang dikutip Olenka mencatat hampir 700 ribu orang meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sepanjang 2024. Dalam tiga dekade terakhir, angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Tanah Air juga meningkat lebih dari dua kali lipat.
Besarnya angka tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit jantung membutuhkan perhatian serius. Bahan sumber yang tersedia menyoroti sejumlah dampak gagal jantung dan pentingnya pencegahan penyakit jantung koroner. Berikut lima risiko yang dapat dipahami dari dampak tersebut.
Lima risiko saat penyakit jantung tidak tertangani
1. Berkembang menjadi gagal jantung
Gagal jantung disebut sebagai tahap akhir dari berbagai penyakit kardiovaskular. Kondisi ini membuat kemampuan jantung menjalankan fungsinya terganggu dan membutuhkan penanganan yang menyeluruh. Karena penyakit jantung koroner termasuk penyakit kardiovaskular, kondisi jantung pasien perlu dipantau dan ditangani secara tepat.
Risiko penyakit jantung juga dipengaruhi banyak faktor. Usia, faktor genetik, jenis kelamin, serta gaya hidup yang tidak sehat dapat berperan. Seiring bertambahnya usia, otot jantung bisa melemah dan menjadi lebih kaku, sehingga kemampuan memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh berkurang.
2. Kualitas hidup menurun
Gagal jantung dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi jantung, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan kesejahteraan pasien. Karena itu, penanganan yang optimal penting dilakukan untuk membantu pasien memperoleh perawatan yang sesuai.
Dokter spesialis jantung Wahyu Aditya menjelaskan bahwa gagal jantung merupakan kondisi kompleks yang membutuhkan pendekatan komprehensif dan berbasis bukti ilmiah terkini. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan satu langkah, melainkan perlu disesuaikan dengan kebutuhan klinis pasien.
3. Risiko rawat inap berulang meningkat
Salah satu dampak gagal jantung yang disorot dalam bahan sumber adalah meningkatnya risiko rawat inap berulang. Perawatan yang berulang dapat menjadi beban bagi pasien dan keluarga, sekaligus menegaskan pentingnya diagnosis serta tata laksana yang tepat.
Upaya memperkuat kompetensi tenaga medis menjadi salah satu bagian dari penanganan. Program HeartPUMP, yang berjalan sejak 2025, memberikan kesempatan bagi dokter untuk belajar melalui observasi klinis, diskusi kasus, dan pertukaran pengalaman. Program ini melibatkan PP PERKI dan sejumlah rumah sakit, termasuk Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
4. Risiko kematian tetap menjadi ancaman
Gagal jantung dapat berujung pada kematian apabila tidak ditangani secara optimal. Pada skala yang lebih luas, angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia menunjukkan besarnya dampak penyakit ini terhadap masyarakat. Data hampir 700 ribu kematian sepanjang 2024 memperlihatkan bahwa persoalan jantung tidak bisa dianggap sepele.
Angka tersebut mencakup penyakit jantung dan pembuluh darah secara keseluruhan, bukan hanya penyakit jantung koroner. Namun, tingginya beban penyakit kardiovaskular memperkuat pentingnya mengenali faktor risiko dan mendapatkan pemeriksaan serta perawatan yang sesuai.
5. Beban layanan kesehatan semakin besar
Meningkatnya kasus hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, dan jumlah penduduk lanjut usia membuat kebutuhan layanan gagal jantung yang berkualitas semakin mendesak. Jika penanganan tidak optimal, dampak penyakit dapat dirasakan pasien sekaligus menambah beban layanan kesehatan.
Menurut Wahyu, pemerataan standar penanganan dapat didukung dengan memperluas kesempatan dokter belajar langsung dari pusat layanan berpengalaman. Pendidikan medis berkelanjutan menjadi salah satu cara menjembatani perkembangan ilmu dengan praktik klinis sehari-hari.
Pencegahan perlu dimulai lebih awal
Penyakit jantung dapat terjadi pada kelompok usia yang berbeda. Data Kementerian Kesehatan yang dikutip Hello Sehat mencatat prevalensi diagnosis penyakit jantung sebesar 1,5 persen pada 2018. Angkanya mulai meningkat pada usia 25–34 tahun dan naik tajam pada kelompok usia 65–74 tahun.
Menjaga kesehatan jantung dapat dimulai dengan aktif secara fisik, tidak merokok, dan menghindari paparan asap rokok. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, serta kolesterol secara rutin juga membantu seseorang mengetahui faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Bagi orang yang telah didiagnosis hipertensi, kolesterol tinggi, atau diabetes, mengikuti rencana perawatan dokter menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini tidak menjamin semua komplikasi dapat dihindari, tetapi dapat membantu mengenali masalah lebih cepat. Jika memiliki kekhawatiran tentang kesehatan jantung, berkonsultasilah dengan tenaga medis agar langkah berikutnya sesuai dengan kondisi masing-masing.
