Gletser Thwaites di Antartika Barat mencair lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Penelitian terbaru memperkirakan gletser itu dapat menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga 30 milimeter pada 2100—dua kali lipat dari proyeksi model lapisan es konvensional. Perubahan ini menambah risiko bagi wilayah pesisir dunia yang menghadapi kenaikan muka laut.
Studi yang terbit dalam jurnal Nature Communications menemukan air laut hangat meresap hingga beberapa kilometer ke bawah gletser dan mencairkan es dari bagian bawahnya. Para peneliti menilai proses tersebut belum sepenuhnya diperhitungkan dalam pemodelan sebelumnya, sehingga proyeksi dampak Thwaites bisa lebih besar.
Air hangat masuk ke bawah Gletser Thwaites
Penelitian ini menyoroti zona landasan, yakni wilayah tempat es yang semula bertumpu di dasar batuan mulai mengapung di atas laut. Posisi wilayah tersebut dapat berubah. Namun, model sebelumnya cenderung memperlakukannya sebagai batas yang tetap, sehingga tidak menggambarkan secara luas bagaimana air laut bergerak ke bawah lapisan es.
Penulis utama studi, Mattia Poinelli, ilmuwan proyek di University of California, Los Angeles (UCLA), menjelaskan bahwa pergerakan pasang surut dapat memompa air hangat masuk lebih jauh ke bawah gletser. Proses yang disebut tidal pumping itu memungkinkan air mencapai bagian es yang lebih dalam dan mempercepat pencairan dari bawah.
Dengan memasukkan proses tersebut, pemodelan memperkirakan Thwaites dapat menambah kenaikan permukaan laut global hingga 30 milimeter atau sekitar 1,2 inci pada 2100. Perkiraan itu berlaku bahkan tanpa pemanasan tambahan di luar kondisi yang terjadi belakangan ini. Sebagai pembanding, model lapisan es konvensional sebelumnya memperkirakan kontribusi sekitar 15 milimeter atau 0,6 inci.
Gletser besar yang menahan aliran es
Thwaites dijuluki “Gletser Kiamat” karena besarnya potensi dampak jika gletser tersebut runtuh. Luasnya sekitar 192.000 kilometer persegi, kurang lebih setara dengan Senegal dan lebih besar daripada negara bagian Florida di Amerika Serikat. Gletser ini merupakan bagian dari Lapisan Es Antartika Barat.
Bersama gletser lain, termasuk Gletser Pine Island, Thwaites berperan menahan aliran es dalam jumlah besar dari daratan menuju laut. Perubahan pada gletser karena itu tidak hanya berkaitan dengan pencairan es di satu wilayah, tetapi juga dengan kemampuan struktur tersebut menahan pergerakan es di sekitarnya.
Thwaites saat ini menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan permukaan laut global. Sejak 2000, gletser itu telah kehilangan lebih dari satu triliun ton es, dengan laju kehilangan sekitar 50 miliar ton setiap tahun. Angka tersebut menggambarkan perubahan yang telah berlangsung, sementara proyeksi penelitian memberi gambaran tentang kemungkinan kontribusinya hingga akhir abad ini.
Risiko kehilangan penahan alami pada 2100
Pemodelan terbaru juga menunjukkan kemungkinan Thwaites kehilangan kontak dengan Punggung Mouginot, struktur bawah laut yang kini membantu menahan pergerakan gletser. Simulasi yang sesuai dengan pengamatan terbaru memperkirakan peluang sekitar 60 persen gletser itu terlepas dari struktur tersebut pada 2100. Peristiwa itu bahkan berpotensi terjadi sejak akhir 2030-an.
Jika penahan tersebut hilang, kemunduran gletser dikhawatirkan berlangsung lebih cepat. Dampaknya dapat meningkatkan risiko kenaikan permukaan laut dan banjir di kawasan pesisir. Namun, angka kontribusi 30 milimeter dalam studi merupakan proyeksi bagi permukaan laut global; tingkat dampak yang dialami tiap wilayah pesisir tidak dirinci dalam penelitian yang dikutip.
Para ilmuwan mengaitkan tekanan terhadap gletser dengan pemanasan laut akibat perubahan iklim, terutama yang berkaitan dengan emisi bahan bakar fosil. Temuan mengenai perembesan air hangat menunjukkan pentingnya memahami proses di bawah lapisan es, bukan hanya perubahan yang terlihat di permukaannya.
Perubahan bentang alam juga terpantau di Arktik
Perubahan akibat menyusutnya gletser turut terlihat di kawasan Arktik. Peneliti Rusia Andrei Leonov mengatakan lebih dari 15 pulau dengan berbagai ukuran ditemukan di kawasan itu sejak 2015. Citra satelit membantu peneliti melacak perubahan, tetapi verifikasi untuk memastikan suatu bentang alam benar-benar merupakan pulau baru dapat memerlukan waktu lebih dari satu tahun.
Temuan di Arktik dan proyeksi untuk Thwaites memperlihatkan bahwa perubahan wilayah es memerlukan pemantauan jangka panjang. Untuk kawasan pesisir, pembaruan pengamatan dan model menjadi penting agar risiko kenaikan muka laut dapat dipahami lebih baik, terutama ketika proses pencairan di bawah gletser ternyata berlangsung lebih jauh dari perkiraan sebelumnya.
