Perubahan kebiasaan makan pada orang lanjut usia dapat menjadi salah satu tanda awal demensia. Mulai dari pilihan menu yang mendadak lebih sederhana, kehilangan minat pada makanan, hingga keinginan kuat mengonsumsi makanan manis, perubahan itu patut diperhatikan—terutama jika disertai masalah ingatan atau penurunan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Pikun memang menjadi gejala demensia yang paling umum dikenal. Namun, menurut Majid Fotuhi, ahli neurologi di Mind/Brain Institute, Johns Hopkins University, perubahan perilaku makan juga kerap diceritakan keluarga pasien. Ia mengatakan, salah satu keluhan yang sering disampaikan keluarga adalah orang tua mereka mulai makan dengan cara yang tidak biasa.
Demensia merupakan istilah untuk berbagai gangguan kognitif yang umumnya terjadi pada lansia. Alzheimer adalah salah satu jenisnya. Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia; penanganan yang tersedia bertujuan memperlambat perkembangan penyakit dan membantu menjaga kualitas hidup pengidap.
Perubahan kebiasaan makan yang perlu diperhatikan
Perubahan pola makan tidak serta-merta berarti seseorang mengalami demensia. Namun, mengenali pola yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya dapat membantu keluarga menentukan kapan perlu mencari penilaian medis. Berikut empat perubahan yang disebut dapat muncul pada sebagian pengidap.
1. Menu menjadi lebih sederhana
Orang yang sebelumnya senang memasak hidangan rumit mungkin mulai memilih makanan yang lebih mudah disiapkan. Perubahan ini bisa terjadi karena menyiapkan sajian kompleks membutuhkan sejumlah kemampuan sekaligus, seperti merencanakan menu, mengatur tahapan memasak, berbelanja bahan, lalu mengolahnya.
Joel Salinas, ahli neurologi dari New York University, menjelaskan bahwa demensia dapat mengganggu kemampuan merencanakan. Akibatnya, urusan memasak yang dulu biasa dilakukan bisa terasa semakin sulit. Keluarga dapat mencermati perubahan ini dengan membandingkannya dengan kebiasaan orang tersebut sebelumnya, bukan hanya melihat jenis makanan yang disajikan pada satu kesempatan.
2. Minat terhadap makanan berkurang
Hilangnya ketertarikan pada makanan juga dapat berkaitan dengan perubahan di otak. Salah satu dampaknya adalah kemampuan mencium bau dapat terganggu, sehingga makanan terasa kurang nikmat. Sebagian orang mungkin menyebut makanan terasa hambar atau tidak lagi menarik.
Perubahan selera seperti ini bisa berpengaruh pada keinginan untuk makan. Karena itu, keluarga perlu memperhatikan apakah berkurangnya minat berlangsung terus-menerus dan berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Informasi mengenai pola makan sehari-hari dapat membantu menjelaskan perubahan yang dialami saat berkonsultasi dengan tenaga medis.
Nafsu makan dan pilihan makanan bisa ikut berubah
3. Lupa waktu makan atau pola makan berubah
Demensia dapat memengaruhi ingatan sehingga seseorang lupa bahwa sudah waktunya makan. Pada saat bersamaan, kondisi ini bisa mengganggu kemampuan tubuh mengenali sinyal lapar dan kenyang. Adam Mednick, ahli neurologi, menjelaskan bahwa pengidap dapat kesulitan menafsirkan sinyal internal tersebut.
Perubahan itu tidak selalu mengarah pada pola yang sama. Ada orang yang makan terlalu sedikit karena keinginan makannya berkurang atau lupa waktu makan. Dalam kasus lain, seseorang dapat makan berlebihan karena kesulitan mengenali rasa kenyang. Keluarga sebaiknya melihat perubahan itu sebagai pola, bukan menyimpulkan dari satu kali makan yang berbeda.
4. Keinginan mengonsumsi makanan manis meningkat
Kecenderungan menyukai makanan manis termasuk perubahan yang cukup sering dilaporkan pada sebagian pengidap demensia. Mednick mengaitkannya dengan kemungkinan kerusakan pada sirkuit pengendalian impuls di otak. Ketika pengaturan impuls melemah, pilihan makanan seseorang juga dapat berubah.
Perubahan ini lebih umum dikaitkan dengan demensia frontotemporal (FTD), yang memengaruhi lobus frontal dan temporal. Lobus frontal berperan dalam mengatur impuls dan pilihan makanan. Jika fungsi pengaturan itu terganggu, ketertarikan kuat pada makanan manis dapat muncul.
Kapan perubahan pola makan perlu diperiksa?
Keempat perubahan tersebut bukan diagnosis demensia. Fotuhi mengingatkan bahwa perubahan kebiasaan makan perlu dinilai bersama gejala lain. Jika tidak disertai gangguan ingatan maupun kemampuan menilai, keluarga tidak perlu langsung berasumsi bahwa seseorang mengalami demensia.
Namun, kewaspadaan diperlukan bila perubahan makan muncul bersama penurunan kemampuan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan mengingat, mengatur kegiatan, atau menjalankan rutinitas dapat menjadi alasan untuk meminta evaluasi medis. Pemeriksaan lebih lanjut membantu tenaga kesehatan menilai kondisi secara menyeluruh, alih-alih hanya mengandalkan dugaan berdasarkan selera makan.
Bagi keluarga, perubahan kecil yang menetap bisa menjadi bahan pengamatan yang berguna: apa yang berubah, sejak kapan, dan apakah ada kesulitan lain yang menyertainya. Catatan tersebut dapat membantu saat berkonsultasi. Dengan begitu, perubahan perilaku makan tidak diabaikan, tetapi juga tidak buru-buru dianggap sebagai tanda pasti demensia.
