Musim hujan meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD), sementara tifoid tetap dapat menyerang kapan saja. Kementerian Kesehatan RI mencatat 39.672 kasus DBD dengan 105 kematian di Indonesia hingga Mei 2026. Di sisi lain, laporan surveilans nasional mencatat 483.133 kasus suspek demam tifoid sepanjang 2025 hingga minggu epidemiologi ke-30.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa demam, sakit kepala, dan tubuh lemas tak boleh langsung dianggap sebagai keluhan biasa. DBD dan tifoid sama-sama dapat menimbulkan gejala yang mirip, tetapi penyebab serta penanganannya berbeda. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan perawatan yang sesuai.
DBD dan tifoid berasal dari penyebab berbeda
DBD disebabkan virus dengue yang menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti terinfeksi. Risiko penularannya dapat meningkat ketika lingkungan mendukung perkembangbiakan nyamuk, termasuk pada musim hujan. Lingkungan yang lembap juga dapat menjadi titik endemik DBD.
Tifoid, yang juga dikenal sebagai tifus, disebabkan bakteri Salmonella Typhi. Penularan umumnya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, sehingga berkaitan dengan kebersihan makanan, keamanan air, dan sanitasi lingkungan. Berbeda dari DBD, tifoid bukan penyakit musiman dan dapat terjadi sepanjang tahun.
Kedua penyakit dapat dialami berbagai kelompok usia. Demam, sakit kepala, tubuh lemas, dan nafsu makan menurun dapat muncul pada DBD maupun tifoid. Karena keluhannya beririsan, gejala saja tidak cukup untuk memastikan penyakit yang dialami seseorang.
Pola demam dan gejala lain perlu dicermati
Pada DBD, demam biasanya muncul mendadak dengan suhu sekitar 39–40 derajat Celsius. Demam dapat berlangsung sepanjang hari selama dua hingga tujuh hari, disertai sakit kepala, nyeri pada mata, mual, atau muntah. Nyeri pada persendian, tulang, dan otot juga dapat timbul setelah demam muncul.
Demam tifoid umumnya berkembang lebih perlahan. Suhu tubuh dapat berawal rendah, lalu meningkat selama beberapa hari hingga mencapai sekitar 40 derajat Celsius. Gejalanya juga dapat meliputi sakit perut, diare, atau batuk kering. Perbedaan pola tersebut bisa menjadi petunjuk, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis.
Ruam atau bintik merah juga dapat terlihat pada kedua penyakit. Pada DBD, bintik kecil dapat berkaitan dengan perdarahan di bawah kulit dan tidak memudar saat ditekan. Sebagian penderita juga mengalami perdarahan ringan, seperti gusi berdarah atau mimisan. Pada tifoid, bintik merah dapat muncul sekitar hari kelima setelah terinfeksi, tetapi sebagian penderita tidak mengalaminya.
Kapan pasien DBD perlu dibawa ke rumah sakit?
Tidak semua kasus DBD harus dirawat di rumah sakit. Namun, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan di rumah sakit jika mengalami mual dan muntah hebat hingga tidak mampu makan atau minum. Tanda perdarahan, tubuh yang sangat lemas, nyeri perut hebat, serta gangguan pada saluran cerna juga menjadi alasan untuk segera mencari perawatan.
Informasi dalam sumber juga menyebut penurunan trombosit darah di bawah 100.000 sebagai kondisi yang memerlukan perawatan intensif. Demam yang tidak jelas selama tiga hari dan tidak kunjung turun pun perlu mendapat perhatian medis. Keluarga sebaiknya tidak mengandalkan kemiripan gejala untuk menentukan sendiri apakah keluhan tersebut DBD atau tifoid.
Perbedaan pola penyakit ini membuat kewaspadaan perlu berjalan sepanjang tahun: musim hujan berkaitan dengan meningkatnya risiko DBD, sedangkan tifoid tetap dapat muncul kapan saja, terutama di lingkungan padat seperti asrama, pesantren, atau rumah susun. Jika anggota keluarga mengalami demam atau tanda bahaya, pemeriksaan tenaga medis menjadi langkah penting untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.
